This Week with OpenBSD

Seminggu Bersama OpenBSD

29 July 2017

Everthings has come to an end…

Itu adalah salah satu quote yang cukup saya suka dari seorang admin di grup Telegram yang saya ikuti, selama satu minggu terakhir ini ada banyak kejadian yang terjadi. Baik di dunia sosial melalui Telegram maupun di dunia nyata, tapi yang lebih mengejutkan adalah saya telah menggunakan OpenBSD sebagai sistem operasi default pada laptop kesayangan saya selama satu minggu.

Lalu apa saja yang telah saya pelajari selama satu minggu ini menggunakan OpenBSD sebagai sistem operasi default

Terminal

Saat ini hidup saya dengan OpenBSD lebih banyak menggunakan terminal. Bahkan hingga artikel ini ditulis saya masih belum memasang file manager seperti nautilus atau sejenisnya. Saya lebih sering melakukan pencarian berkas dari dalam terminal. Lalu bagaimana dengan text editor? Ya seperti yang pernah saya tulis sebelumnya ketika sedang belajar menggunakan vim dan tmux, selama sepekan ini saya menggunakan vim atau nano di OpenBSD.

Dan juga dikarenakan OpenBSD tidak menyediakan antar muka grafis secara default, maka hampir semua proses editing melalui terminal.

Window Manager

Ini adalah hal baru yang saya pelajari, menggunakan window manager dibandingkan dengan Desktop Environment. Sebelumnya saya sempat memasang GNOME sebagai Desktop Environmen namun merasa kurang pas, karena sebelumnya terbiasa di Ubuntu dengan GNOME. Akhirnya saya pun memilih ratpoison sebagai Window Manager untuk saya gunakan.

Namun versi ratpoison yang saya gunakan sedikit berbeda karena saya menggunakan versi yang sudah diubah oleh bapak Joshua Stein. Sehingga antarmuka laptop saya saat ini mirip-mirip dengan yang beliau gunakan.

Namun ada sedikit masalah yang saya hadapi dengan menggunakan Window Manager ini, yaitu ketika sedang menutup aplikasi yang saya gunakan. Ketika memberikan perintah close pada aplikasi yang terbuka, sepertinya aplikasi tidak tertutup dengan benar.

Hal yang belum sempat saya atur adalah penggunaan multi-monitor, sebelumnya saya menggunakan monitor tambahan untuk meningkatkan produktivitas ketika harus membuka beberapa aplikasi secara bersamaan. Namun saya lupa menambahkan baris berikut pada berkas .xsession saya di OpenBSD

xrandr --newmode "1920x1080_75.00"  220.75  1920 2064 2264 2608  1080 1083 1088 1130 -hsync +vsync
xrandr --addmode VGA-1 "1920x1080_75.00"

Itu adalah pengaturan untuk monitor tambahan yang saya gunakan dengan menggunakan output port VGA di laptop.

Menjelajah Dunia Maya

Seperti biasa, peramban kesukaan saya adalah Firefox sehingga saya pun melakukan pemasangan dengan perintah

$ sudo pkg_add firefox

Namun menggunakan Firefox di OpenBSD selama satu minggu terakhir terasa kurang nyaman. Beberapa kali tiba-tiba tertutup secara paksa, dan saya belum mengetahui apa penyebabnya.

Satu hal yang perlu diketahui adalah, saya belum berhasil melakukan kompilasi aplikasi Telegram di platform OpenBSD ini. Hal ini menyebabkan saya harus membuka Telegram melalui webogram.

Selain hal-hal diatas ada juga yang membuat saya kadang merasa harus kembali lagi menggunakan Ubuntu, berikut adalah beberapa hal yang membuat saya ingin kembali menggunakan Ubuntu

  • Wifi
    It’s sucks men .. masa kaga bisa konek wifi dengan gampang, saya membuat script sederhana untuk terhubung dengan wifi kosan yang saya gunakan. Jika harus terhubung dengan wifi baru maka harus ubah lagi script tersebut (T__T).

  • Development
    Saat ini saya sedang belajar rust sebagai bahasa baru untuk meningkatkan kemampuan saya pribadi. Namun berdasarkan halaman ini, OpenBSD belum sepenuhnya mendapat dukungan (T__T). Dan juga saya belum memasang IDE apapun, cuma vim sebagai editor yang saya gunakan saat ini.

Itu adalah pengalaman saya selama satu minggu ini menggunakan OpenBSD sebagai sistem operasi harian. Banyak hal yang hilang dari apa yang biasa saya dapatkan ketika mengunakan Ubuntu, dan meskipun seperti quote yang saya tuliskan di atas sepertinya petualangan bersama OpenBSD ini belum akan berakhir.



blog comments powered by Disqus